Serangan Umum 1 Maret
Tantangan Menulis Hari ke-31
#tantangangurusiana
Yogyakarta memang istimewa. Selalu ada sesuatu di sana. Banyak cerita dan kisah perjalanan hidup terbingkai di setiap sudut kota pelajar ini. Kota yang bagaikan Indonesia mini. Banyak warga dari seluruh pelosok negeri berada di sini. Di kotaku yang indah dan berhati nyaman. Salah satu cerita perjuangan bangsa yang tak akan terhapuskan oleh zaman adalah tentang serangan umum 1 Maret. Perjuangan para pahlawan bangsa terpatri dengan nyata dalam sebuah monumen yang berdiri di kawasan 0 km. Bagi warga Yogyakarta, maupun para pelancong monumen yang terletak di sekitar Benteng Vredeburg, menjadi magnet tersendiri. Tak hanya nilai keindahan , tapi semangat perjuangan para pahlawan senantiasa berkobar menggema di penjuru Nusantara.
Tujuh puluh satu tahun yang lalu
Para pemberani unjuk diri
Menyerbu tanpa rasa gentar di hati
Doa anak dan istri menemani
Demi harga diri ibu pertiwi
Jantung Yogyakarta berdegup kencang
Detaknya menggema ke seluruh dunia
Darah dan air mata bercucuran
Tak terhitung raga yang terpisah
Anak menangis tak kenal ayahnya
Kekasih merana ditinggal belahan jiwa
Atas nama perjuangan
Demi mempertahankan kemerdekaan
Tujuh puluh satu tahun yang lalu
Enam jam kota dalam genggaman
Senyum merekah menyambut kemenangan
Tak ada perjuangan yang sia-sia
Bangsa ini mengenangmu
Bangsa ini tak akan melupakanmu
Monumen menjadi pengingat sepanjang waktu
Serangan umum 1 Maret
Enam jam di Jogja
Meski bangsa ini telah menyatakan kemerdekaannya, tidak serta merta urusan telah selesai. Ternyata masih begitu banyak yang belum menerima dan berusaha merongrongnya. Belanda masih mencari berbagai cara. Hambatan, tantangan, dan ancaman seakan selalau ada bagi bangsa yang masih lemah ini. Bangsa yang baru saja lahir dan lepas dari ketertindasan bangsa lain. Belanda ingin sekali menunjukkan kepada dunia, bahwa kita bangsa yang masih lemah, bangsa yang belum pantas untuk berdiri sendiri. Akhirnya mereka pun membonceng Sekutu agar bisa kembali menguasai negeri ini.
Hasil Perjanjian Renvile semakin menyempitkan wilayah kekuasaan negara kita waktu itu. Negara Indonesia hanya tinggal Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II. Tujuan agresi ini untuk menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa Republik Indonesia dan tentaranya sudah tidak ada, sehingga Belanda bisa bebas menguasai kembali Indonesia. Yogyakarta yang waktu itu sebagai ibu kota pun diduduki oleh Belanda.
Situasi semakin genting. Belanda terus menguasai daerah-daerah di sekitar Yogyakarta. Sri Sultan HB IX mengirim surat kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk merebut kembali Yogyakarta . Koordinasi pun dilakukan dengan Letnan Kolonel Soeharto yang waktu itu menjabat sebagai komandan Brigade 10/Wehkreise III. Akhirnya disepakati untuk melakukan serangan pada tanggal 1 Maret 1949.
Menurut sumber Wikipedia Indonesia, pada tanggal 1 Maret 1949, sudah banyak para gerilyawan yang mulai memasuki Kota Yogyakarta. Tepat pukul 06. 00 WIB bersamaan dengan berbunyinya sirene sebagai tanda jam malam berakhir, Serangan Umum pun dimulai. Sekitar 2500 gerilyawan TNI melakukan serangan besar-besaran di jantung Kota Yogyakarta di bawah pimpinan langsung Letkol Soeharto.
Berita kemenangan TNI ini kemudian menyebar hingga akhirnya sampai ke Washington D.C, Amerika Serikat, . Saat itu PBB sedang bersidang dan diikuti oleh perwakilan Indonesia. Dengan kemenangan Serangan Umum 1 Maret 1949 ini, Indonesia memiliki posisi yang kuat dalam perundingan dengan Dewan Keamanan PBB.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Semoga kita pun demikian , menghargai perjuangan pendahulu kita. Isi dan pertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan air mata. Jayalah bangsaku, terima kasih pahlawanku.
Bantul,02032020

No comments:
Post a Comment