Thursday, March 12, 2020

Beri Mereka Kesempatan

Beri Mereka Kesempatan
wordpress.com

Beri Mereka Kesempatan

Bel literasi baru saja berbunyi. Anak-anak segera mengumpulkan jurnal literasi dan mengembalikan buku bacaannya ke rak buku yang ada di sudut kelas. Rutinitas ini sudah berjalan sejak mereka menjadi siswa di sekolah ini, sehingga mereka sudah hafal dan melakukan sendiri tanpa komando. Mudah-mudahan dari kegiatan literasi yang hanya lima belas menit ini dapat menumbuhkan rasa keingintahuan yang mendorong mereka untuk membaca , membaca dan membaca lagi.
Tetiba terdengar pintu kelas diketuk. Bu Lina pun bergegas membuka.
“Assalamu’alaikum Bu..maaf mengganggu,” kata seorang ibu.
“Waalaikummussalam... ya Bu, ada apa?” tanya Bu Lina
“Mohon izin mau ketemu anak saya, Ardi. Bekal makanan dan uang sakunya ketinggalan,” jawabnya
“Oh, ya sebentar. Ardi...dicari Ibu Nak,”
Ardi pun berdiri keluar kelas dengan cemberut. Begitu ketemu ibunya, dia tampak begitu kesal.
“Ngapain pakai diantar sih Bu. Ardi kan sudah besar,” sungutnya.
Ibunya hanya tersenyum, sambil memberikan bekal kepada anaknya. Ardi menyalami ibunya dengan muka yang masih ditekuk. Begitu masuk ke dalam kelas , teman-temannya langsung tertawa.
“Cieee...anak mama nih,” celetuk Juna.
Bu Lina segera menenangkan anak-anak agar tak memperolok Ardi.
Ayah Ibu...
Terkadang atas nama kasih sayang kita segera melakukan tindakan kecil seperti apa yang dilakukan ibu Ardi tadi. Begitu tahu bekal makanan dan uang saku ketinggalan bergegas disusulkan ke sekolah, tanpa pertimbangan. Padahal tindakan ini tidak sepenuhnya benar. Mengapa?
Semestinya kita memberi kesempatan kepada anak untuk belajar. Belajar sebab dan akibat. Biarkan anak untuk berusaha memecahkan masalahnya. Beri kesempatan dia untuk berpikir dan mencoba mencari solusi. Anak SMP bukan lagi anak kecil yang harus selalu didampingi setiap saat, tetapi juga belum bisa dilepas begitu saja. Keteledoran akan menjadi pengalaman yang membuatnya lebih berhati-hati dan tidak akan mengulang hal yang sama di lain waktu. Beda kasusnya kalau setiap ketinggalan, segera kita susulkan. Anak akan berharap ada yang mengantar barangnya yang ketinggalan. Esoknya keteledoran ini akan terus menerus terjadi. Anak menjadi ketergantungan dengan kepada orang lain. Ketinggalan tak apa-apa toh nanti ada yang mengantar. Kita tak ingin seperti ini bukan?
Sikap Ardi yang cemberut menunjukkan betapa malunya dia di hadapan teman-temannya. Anak yang sedang mengalami masa peralihan dari anak-anak ke remaja ini ingin dianggap dewasa, bukan anak kecil lagi. Dia ingin berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.
Mengantar barang yang ketinggalan ke sekolah anak justru tidak mengajarkan kepada anak untuk lebih hati-hati. Ini justru akan menjebak anak dalam rasa ketergantungan kepada orang lain.
Ayah Ibu...
Kita tidak selamanya bisa bersama anak-anak kita. Beri mereka kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Biarkan mereka berlatih memecahkan masalahnya. Bimbing dan nasehatkan untuk selalu berhati-hati dan teliti, tetapi tidak dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru melemahkan.
Yakinlah anak-anak kita adalah anak-anak hebat yang bisa mencari solusi dan selalu berpikir kritis. Namun demikian sebagai orang tua kita tetap harus mengarahkan dan membimbingnya tanpa mengecilkan dia. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik agar mampu menjadi pribadi yang kuat. Sosok andal yang tangguh dan tatag menatap masa depan. Semoga kita tidak terjebak dalam kasih sayang yang justru melemahkan.
Banguntapan, 27 November 2019

No comments:

Post a Comment