Thursday, March 12, 2020

Gadis Cilik Itu

Gadis Cilik Itu

Gadis cilik itu berlenggak lenggok dengan gayanya yang lucu. Bajunya yang kebesaran bak putri dijinjingnya ke sana ke mari. Pipinya yang cubi alias tembem seperti bakpao menambah imut wajah inosennya. Dialah keponakanku yang manja Keysa Humairo.
Gadis cilik yang kini piatu itu belum mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya bersedih. Mengapa orang-orang di sekitarnya menangis. Yang dia tahu banyak orang-orang baik datang ke rumahnya. Hatinya riang karena banyak teman. Ada yang menggendong dan menghiburnya. Sampai ketika malam tiba, barulah dia tersadar.
Kegelisahan gadis cilik itu tampak dari tangisnya yang memecah malam. Kami semua terjaga. Dalam tangisnya dia tak mampu berkata. Dia ingin berranya, namun tak tahu bagaimana caranya. Tangis kerinduannya menyayat hati, hingga akhirnya lelah membuatnya tertidur kembali.
Ketika pagi datang, kembali hati riang. Teman berdatangan mengajaknya bermain dan bercanda. Sejenak dia kembali lupa tentang kerinduannya semalam. Bocah cilik itu mungkin heran, mengapa kakak-kakaknya selalu setia menemani. Mengapa mereka tidak sekolah atau bermain sendiri. Yang dia rasakan , betapa senangnya dimanja kakak-kakak dan juga bapaknya. Semua bergantian menjaga dan menggendongnya. Tak satu pun yang marah ketika dia menumpahkan minum di karpet kamar. Bak putri kata-katanya selalu didengar, disayang dan dimanja.
Sampai suatu ketika, rindu itu tak tertahankan. Diungkapkan dengan kata-kata yang menyesakkan dada siapa saja yang mendengarnya.
"Bapak, cayang atu ga?" tanyanya
"Pasti dong, sayang bangeeet"
"Kalo Mama tayang ga?"
"Pasti. Mama juga sayang. Sangat sayang,"
"Kalau Mama tayang, memgapa Mama ngga pulang-pulang?"
Mulut terasa terkunci, lidah terasa kaku. Dunia mendadak berputar-putar bagiku.
Bagaimana menjelaskan kepadamu, kalau Mama tak akan pernah kembali lagi. Mama tak akan pernah pulang ke rumah ini. Mama telah berpulang.
"Mama sudah di surga Nak...Tapi Bapak tahu Mama sangat menyayangimu," lirih kuucap dalam ketakberdayaan.
"Sekarang ambil air wudu yuuk, kita salat dan berdoa untuk Mama," ajak Kak Na, si sulung yang mulai beranjak dewasa.
Hari ini tepat empat tahun usiamu Nak.
Selamat hari lahir, semoga engkau menjadi anak salihah, seperti harapan Mamamu. Banyak cinta dan kasih dari kami semua untukmu.
Tumbuhlah menjadi gadis yang tegar, tatag dan tangguh, seperti ilalang yang terus bangkit dan mampu bertahan dalam gersang sekali pun.
Tumbuhlah seperti mawar yang merah merona, menghiasi rumah ini dengan akhlak yang terpuji dan mulia.
Barakallah fii umrik Keysa....
Banguntapan, 1 Oktober 2019

No comments:

Post a Comment