Selamat Jalan Nak
Tantangan Menulis Hari ke-23
#tantangangurusiana
"Ayah, Bunda...Aku sekolah dulu ya," pamit Nisa sambil menyalami ayah dan bundanya.
"Iya Nak.. Hati-hati ya. Jangan ada yang ketinggalan," jawab Bunda.
"Siap Bun. O ya Yah jangan lupa jemput jam setengah lima ya," lanjut Nisa.
"Koq sore banget Nak?" tanya Ayah
"Iya, ada kegiatan di sekolah Yah. Nanti Pramuka, katanya mau susur sungai,"
"Oh..begitu ya. Hati-hati lho Nak. Licin, apalagi baru musim hujan," jawab Ayah.
"Hampir lupa. Happy Birthday Ayah. Panjang umur dan sehat selalu," Nisa yang sudah beranjak kembali lagi memeluk ayah tercintanya.
"Hehehe...terima kasih Nak," jawab Ayah memeluk dan mengecup kening putri kesayangannya itu.
"Hari ini Ayah ulang tahun, berarti besok Nisa dong. Besok belikan kado ya Bund. Nisa ingin nambah buku lagi. Boleh kan Bund?" pinta Nisa dengan manja pada bundanya.
"Iya..beaok kita jalan-jalan ke toko buku. Pas ada diskon," jawab bundanya sambil tersenyum.
"Asyiiik...," Nisa kegirangan.
Siapa yang menyangka, percakapan itu akan menjadi yang terakhir. Berita kecelakaan yang terjadi di Sungai Sempor menyebar begitu cepat. Ayah dan Bunda Nisa pun kebingungan. Bergegas mereka menuju ke lokasi kejadian. Berharap segera menemukan putri mereka di antara anak-anak yang masih basah dan berseragam.
Was-was dan kecemasan semakin besar, ketika satu persatu para siswa lapor. Di mana Nisa? Mengapa tak kunjung kelihatan.
" Ayah, ayo cari ke tempat lain," ajak Bunda sambil menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
"Ayo Bun,"
Bergegas mereka berlari ke tempat lain. Warga pun cekatan membantu dan menyebar ke berbagai titik untuk mencari anak-anak yang belum ketemu.
Alangkah hancur ayah dan bunda Nisa, ketika melihat putrinya telah terbujur kaku, di klinik terdekat.
Raga rasanya tak bertulang. Untuk berdiri pun mereka tak kuasa. Ya..Nisa benar-benar telah tiada.
"Bangun Nak, banguuun. Ayah datang menjemputmu Nak. Ayo kita pulang," kata Ayah yang tak lagi kuasa menahan tangisnya.
Langit pun seakan turut berduka. Hujan turun dengan derasnya. Sesekali petir menyambar. Ayah dan Bunda Nisa memeluk erat putri kesayangan mereka.
Jodoh, rezeki, dan mati benar-benar menjadi rahasia Illahi. Senyum ceria yang tadi pagi terkembang, berubah menjadi hujan air mata. Hati orang tua mana yang tidak hancur dan lara. Sungguh bagai teriris sembilu luka yang tergoreskan.
Kami sangat menyayangimu Nak, tetapi Allah jauh lebih mencintaimu. Putri kecilku yang ayu, terima kasih sudah menemani Ayah dan Bundamu selama ini. Tidurlah dengan tenang Nak. Tunggu kami di surga-Nya. Selamat ulang tahun Nak. Ayah dan Bunda ikhlas melepasmu. Mungkin memang ini sudah menjadi takdir kita. Hanya sampai di sini kebersamaan kita di dunia. Ayah dan Bunda yakin kita akan bertemu lagi nanti, dan berkumpul lagi dalam keabadian,"
Selamat jalan Nak. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat terindah di sisi-Nya. Mengampuni segala dosa, menerima amal ibadah. Keluarga dan orang-orang yang mengenalmu, akan selalu mengenang kebaikan dan keramahanmu Nak.
Selamat Jalan Nisa. Semoga keluarga diberi kesabaran dan ketabahan menghadapi kenyataan ini. Sesungguhnya semua yang ada di muka bumi ini adalah milik-Nya dan kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Tak ada satu pun yang bisa berlari atau sembunyi ketika saatnya tiba nanti.
Bantul, 23022020

No comments:
Post a Comment