Ke Mana Air Mengalir?
Pergantian tahun Masehi baru saja berlalu. Masih lekat dalam ingatan. Tampak di layar kaca, hiruk pikuk pesta pergantian tahun di ibu kota. Gempita sorak sorai dalam joget dan lagu yang didendangkan. Belaian rintik hujan pun tak dihiraukan. Bernyanyi dan menari hingga tahun pun berganti. Meski tahun telah berganti, namun ternyata hujan tak kunjung berhenti.
Derai tawa kebahagiaan masih bosa menikmati hari di bulan Januari, ternyata mendadak menjadi resah dan kepanikkan. Air seakan datang dari mana-mana. Banjir di ibu kota mungkin sudah biasa, tapi kali ini sungguh luar biasa. Kejadian yang dilansir beberapa telrvisi ini sangat besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ya...Dalam hitungan detik saja air sudah membanjiri Jakarta. Miris dan ikut prihatin dengan saudara-saudara kita yang mengalaminya. Air memang tak kenal kompromi dan tawar menawar. Ia datang dan terus mengalir menuju tanah tempat sembunyi, menuju lahan yang lebih rendah. Itu sudah menjadi kodratnya. Ia mengalir dan terus mengalir sampai bisa meresap dan menemukan muara persinggahannya.
Manusia sungguh yak berdaya untuk memghadapinya. Meski berbagai upaya telah diusahakan, banjir tetap saja melanda negeri ini.
Curah hujan yang ekstrim. Tiga kali lipat dari curah hujan tertinggi pun menjadi pemicu kejadian ini. Tentu saja ini faktor alam yang tak bisa dikendalikan. Kondisi geografis yang rendah pun menjadi arah air mengalir. Banyak faktor di dalamnya. Bisa juga karena global warming, sehingga permukaan air laut naik, dan daratan pun menjadi lebih rendah. Maka, ke mana lagi air akan mengalir?
Bukan saatnya untuk saling menyalahkan, karena sekecil apapun air yang jatuh ke bumi ini, tentu sudah atas izin-Nya. Tinggallah kita untuk saling meringankan, bekerja sama dan menguatkan. Semoga saudara-saudara kita yang terkena banjir diberi kekkuayan dan kesabaran. Air segera surut, dan aktivitas kembali normal.
Terpenting lagi, semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Mungkin lama kita tidak bergandeng tangan hingga Allah pun ingatkan. Sesungguhnya kita memang harus bersahabat dengan semesta.
Derai tawa kebahagiaan masih bosa menikmati hari di bulan Januari, ternyata mendadak menjadi resah dan kepanikkan. Air seakan datang dari mana-mana. Banjir di ibu kota mungkin sudah biasa, tapi kali ini sungguh luar biasa. Kejadian yang dilansir beberapa telrvisi ini sangat besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ya...Dalam hitungan detik saja air sudah membanjiri Jakarta. Miris dan ikut prihatin dengan saudara-saudara kita yang mengalaminya. Air memang tak kenal kompromi dan tawar menawar. Ia datang dan terus mengalir menuju tanah tempat sembunyi, menuju lahan yang lebih rendah. Itu sudah menjadi kodratnya. Ia mengalir dan terus mengalir sampai bisa meresap dan menemukan muara persinggahannya.
Manusia sungguh yak berdaya untuk memghadapinya. Meski berbagai upaya telah diusahakan, banjir tetap saja melanda negeri ini.
Curah hujan yang ekstrim. Tiga kali lipat dari curah hujan tertinggi pun menjadi pemicu kejadian ini. Tentu saja ini faktor alam yang tak bisa dikendalikan. Kondisi geografis yang rendah pun menjadi arah air mengalir. Banyak faktor di dalamnya. Bisa juga karena global warming, sehingga permukaan air laut naik, dan daratan pun menjadi lebih rendah. Maka, ke mana lagi air akan mengalir?
Bukan saatnya untuk saling menyalahkan, karena sekecil apapun air yang jatuh ke bumi ini, tentu sudah atas izin-Nya. Tinggallah kita untuk saling meringankan, bekerja sama dan menguatkan. Semoga saudara-saudara kita yang terkena banjir diberi kekkuayan dan kesabaran. Air segera surut, dan aktivitas kembali normal.
Terpenting lagi, semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Mungkin lama kita tidak bergandeng tangan hingga Allah pun ingatkan. Sesungguhnya kita memang harus bersahabat dengan semesta.
#semogalekassurut#02012020

No comments:
Post a Comment