Thursday, March 12, 2020

Apa Kabar Sahabat?

Apa Kabar Sahabat?
dokumen pribadi

Apa Kabar Sahabat?

Yu Jum tertegun di depan layar televisi. Berita tentang kejadian nun jauh di sana mengusik hati dan pikirannya. Bagaimana tidak, sebentar lagi dia harus ke sana, bertemu dengan sahabat mitranya. Hatinya berdesir, ada gelisah menyelinap, mengganggu rasa. Segera diambilnya gawai di atas meja.
Masih seperti kemarin. Beberapa pesan yang dikirim ke sahabatnya itu hanya centang satu. Apa gerangan yang terjadi? Bagaimana keadaan mereka yang di sana?
“Kenapa Dik? Dari tadi koq gelisah?” tanya Kang Karyo mengagetkannya.
“Itu Kang, berita yang beredar koq serem ya? Padahal aku kan mau ke sana. Mereka juga susah dihubungi. Gimana ya Kang?” ungkap Jum pada suaminya.
“Ya gimana lagi, kemungkinan besar ditunda Dik. Tak mungkin lah jadi berangkat sekarang,” jawab Kang Karyo.
“Bukan masalah jadi berangkat atau tidaknya Kang, tapi bagaimana kabar teman-teman di sana. Kalau dengar dan bacar berita yang beredar di media sosial kan mengerikan,” jawab Yu Jum.
“Lhah...ingat lho Dik, berita di media sosial belum tentu benar. Kamu juga jangan ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Sekarang semua dengan mudah bisa beredar, stop di kita jangan dilanjutkan. Kita juga harus pandai memilah dan memilih berita. Tidak semuanya benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” jelas Kang Karyo.
“Iya, aku paham Kang,” jawab Yu Jum.
“Sudah kirim pesan? Coba disms, jangan pakai wa. Mungkin akses internet dibatasi. Siapa tahu bisa kalau lewat sms,” saran Kang Karyo.
“Oh iya ya Kang. Sebentar aku sms saja,” jawab Yu Jum sambil bergegas mengirim sms kepada sahabatnya.
“Koq belum sampai ya Kang,”
“Sabar, mungkin jaringan sibuk. Yang pasti tetap berdoa. Semoga mereka baik-baik saja. Kondisi segera kondusif dan aktivitas bisa berjalan seperti biasanya,” jawab Kang Karyo.
“Aamiin. Bagaimana kalau ternyata kami harus berangkat ke sana Kang?”
“Ah tak mungkin. Pasti ditunda. Bila tetap diberangkatkan, aku yang keberatan. Bagaimana bisa membiarkanmu ke sana dalam kondisi seperti saat ini?” jawab Kang Karyo mencubit pipi istrinya.
“Sudahlah, dijalani. Semua pasti ada hikmahnya. Ada penundaan tugas, berarti bisa mengerjakan tugas yang lain. Misal , membuat bakmi rebus juga enak lho,” tambah Kang Karyo sambil tertawa.
“Hadeeeh, ada yang seneng ya ditunda, bisa disuruh-suruh masak,” sungut Yu Jum.
“Lho kan disyukuri to Dik,”
“Iya, iya....,”
Yu Jum menghela napas. Sambil bergegas ke dapur pikirannya masih saja melayang-layang. Ternyata benar adanya, manusia hanya mampu berencana, selebihnya biarlah Sang Mahakuasa yang menentukan. Seperti saat ini, rencana yang sudah tersusun begitu rapi sejak jauh hari pun harus tertunda karena situasi yang tak memungkinkan. Perkenalan dengan sahabat barunya yang berasal dari pulau nan jauh di sana memang belum begitu lama. Namun rasa persaudaraan terasa begitu erat. Senasib dan seperjuangan dalam memebersamai anak bangsa, membuat kami menjadi begitu dekat. Berdiskusi, saling berbagi membekas di hati. Terlebih setelah bersama-sama selama beberapa hari. Banyak cerita telah dilalui. Doa terbaik untukmu sahabat-sahabatku. Semoga Allah sellau melindungi kita di mana pun berada. Meski sekarang kita tidak bisa bersua, bercakap , tetapi kita bisa tetap berkomunikasi secara daring. Walaupun terbatas. Salam kemitraan.
Catatan kemitraan#apakabarjayapura#

No comments:

Post a Comment