Thursday, March 12, 2020

Ketika Kau Pergi

Ketika Kau Pergi

Ketika Kau Pergi

Tantangan Menulis Hari ke-21
#tantangangurusiana
Dinginnya malam semakin terasa. Hujan pun kian deras tak henti-hentinya. Sesekali petir menyambar. Sebagian yang lain mungkin sudah terlelap dalam buaian malam, tapi tidak denganku. Meski mata ini terpejam, tetapi sedikit pun aku tak bisa melelapkan diriku.
Bayanganmu masih tertinggal di setiap sudut rumah ini. Bahkan air mata ku pun belum mengering. Tak ada habisnya, selalu jatuh dan jatuh lagi saat mengenangmu. Engkau, belahan jiwa pergi untuk selamanya. Tanpa kata perpisahan, tanpa pesan tersurat.
Kulirik lelaki kecil yang tertidur di sampingku. Dia pun masih begitu kehilanganmu. Didekap erat-erat foto kita bertiga waktu itu. Hatiku semakin perih. Bak teriris sembilu. Darahnya mengucur deras, membasahi setiap napasku. Aku kian tersedu dalam rasa rindu yang menyiksaku. Tak lagi kurasa belaian lembutmu yang selalu menenangkan hatiku saat sedih menyapaku. Kau benar-benar telah meninggalkanku.
Kubiarkan air mataku kembali menganaksungai. Kubebaskan rasaku tenggelam dan larut dalam kenanganmu. Kau pemuda idaman yang akhirnya menjadi imamku. Penuh kasih menuntun setiap langkahku. Kau pakaianku, yang selalu menutup dan membuat nyaman hidupku. Kau, nahkodaku yang membuatku tak pernah takut akan tingginya gelombang, badai, dan topan yang datang menerjang. Nahkodaku yang tak pernah salah arah dan terus berlayar ke pulau harapan. Namun mengapa, belum jua pulau terlihat, kau sudah tinggalkan? Mampukah aku terus berlayar?
Rambut belum jua memutih, anak kita pun bahkan masih kecil. Namun mengapa takdir kita berakhir? Berjuta kata mengapa bermunculan di benakku? Salahkah jika aku merasa hidup ini tak adil bagiku? Ingin aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil namamu.
Sentuhan tangan yang begitu lembut di pundak mengagetkanku. Kupeluk erat wanita yang sangat berarti bagiku. Dalam pelukannya kutumpahkan seluruh air mataku.
"Sabar ya Nak. Ibu tahu dan bisa merasakan perihnya hatimu. Namun apalah daya kita. Semua sudah menjadi takdir Yang Mahakuasa. Di luar kemampuan dan sesungguhnyalah kita semua hanya menunggu antrian. Kini suamimu telah duluan. Suatu saat kita juga akan menyusulnya. Menangislah, bila itu bisa mengurangi bebanmu, tapi jangan lama-lama Nak. Lihatlah dia. Anakmu membutuhkan ibu yang hebat. Ibu yang kuatyang bisa menjadi ayah juga baginya. Kamu tidak sendirian Nak. Masih ada ibu, ayah, dan juga saudara-saudara yang menyayangimu," kata Ibu sambil mengusap kepalaku.
Aku tak mampu berkata-kata. Semua terasa tersekat di tenggorokan. Hanya anggukan lemah dalam ketakberdayaan. Kulihat anakku yang masih terlelap. Benar kata ibu, aku harus kuat. Aku tak boleh lemah. Sang Sutradara tentu telah memperhitungkan-Nya. Takdir-Nya tak pernah salah. Pastilah ini sudah menjadi keputusan terbaik yang diberikan untukku. Aku harus ikhlas. Selamat jalan suamiku. Tenanglah dalam tidur panjangmu. Menikah denganmu adalah babak terindah dalam hidupku. Meski hanya sebentar kita bersama, namun kenanganmu akan selalu terpatri dalam hatiku. Selamat jalan belahan jiwa. Tunggu aku di surga-Nya. Aku akan tetap berdiri tegar, seperti apa yang kau mau. Menjadi wanita yang kuat demi buah hati kita.
Bantul,21022020

No comments:

Post a Comment