Thursday, March 12, 2020

Ketika Amaryllis Berbunga Lagi

Ketika Amaryllis Berbunga Lagi

Ketika Amaryllis Berbunga Lagi

Mataku terpejam rapat, namun hati tak jua terlelap. Menembus langit-langit kamar. Mengembara entah ke mana. Bagai berjalan tanpa tujuan. Hampa dan merana. Rasa ini begitu berat menghimpitku. Mengikat ragaku hingga terasa kaku. Memasung hatiku, dalam rindu yang tak jua bertemu.
Rindu yang begitu besar kepadamu. Separuh napas yang telah mendahuluiku. Ketika rambut belum jua memutih, dirimu tak lagi ada di sisi. Untuk kesekian kalinya aku jatuh dan tersungkur lagi. Menangis dalam kepedihan dan kesendirian. Aku tak kuasa berlari. Kunikmati dan kuresapi kerinduan ini.
Tetiba gadis kecil yang tertidur di sampingku memanggil.
"Ayah...."
"Ya sayang..., Adik mau pipis?" tanyaku dengan lembut.
"Ngga...Ayah belum tidul?" tanyanya sambil mengedip-kedipkan matanya yang masih enggan membuka.
"Sudah..ni Ayah merem," jawabku sambil memejamkan mata pura-pura tidur.
Tak ada reaksi, kembali hening...Sepi..
Aku pun melirik sedikit ke samping. Lega...dia kembali memejamkan mata sambil memeluk mickey mouse kesayangannya. Wajahnya tampak pulas. Ah..dia benar-benar mirip denganmu. Kembali wajahmu hadir dalam lamunanku. Tersenyum dan selalu ceria seperti dulu. Saat pertama aku mengenalmu. Gadis ceria yang akhirnya menjadi bidadari surgaku. Sayang...ternyata takdir kita bersama tak lama. Kau begitu setia sampai menutup mata.
Kini, ketika amaryllis kembali berbunga, tak ada lagi yang bersorak kegirangan. Tak ada lagi decak kekagumanmu. Tak ada lagi ceriamu. Sayang...lihatlah..amaryllis telah berbunga. Indah seperti cinta kita bukan? Terhampar begitu cantik. Pun demikian dengan kisah kita. Tersimpan selalu di lubuk hati dan akan selalu mekar ketika tiba saatnya nanti. Seperti amaryllis yang akan berbunga ketika musim menghampiri.
Di luar hujan turun begitu deras. Membawa berkah untuk semuanya. Seakan ingin membasuh air mata yang masih ada. Bukan aku tak menerima setiap titah-Nya. Namun hati tak kuasa. Tertatih dalam langkah. Aku tahu Allah tak akan membiarkanku. Tenggelam dalam lautan duka. Bukankah semua sudah diperhitungkan-Nya. Bangkit Ndra... Bangkit... Batinku menyemangati diri sendiri.
Ya..aku harus bangkit. Seperti pagi yang selalu datang ketika malam sudah begitu pekat. Seperti hujan yang turun begitu deras ketika mendung sudah sangat pekat. Aku yakin Allah telah menyiapkan rencana yang begitu indah ketika duka sudah begitu dalam.
Bergegas kuhapus air mata yang masih tersisa. Tinggalkan peraduan tuk mengadu pada Sang Pencipta. Sungguh semua kupasrahkan kepada-Mu. Karena kuyakin jalan-Mu pasti yang terbaik.

No comments:

Post a Comment