Thursday, March 12, 2020

Menulis itu Bakat, Benarkah?

Menulis itu Bakat, Benarkah?

“Woooow...keren bener nih tulisannya,” teriak Bu Ambar ketika membaca sebuah buku.
“Baca apa sih Bu? Emang siapa penulisnya? Coba lihat ” tanya Bu Nina yang duduk di sampingnya.
“Ini lho Bu,” jawab Bu Ambar sambil menunjukkan nama penulis buku yang sedang dia baca.
“Oh..Dia memang penulis terkenal. Tulisannya bagus-bagus dan enak dibaca. Kriuuuuk. Kayaknya dia memang punya bakat sejak lahir Bu,” kata Bu Nina.
Benarkah menulis itu bakat yang dibawa sejak lahir?
Hampir sebagian besar orang berpendapat seperti Bu Nina. Menulis itu bakat bawaan, sehingga hanya orang-orang yang punya bakat dan keturunan saja yang mampu menulis. Namun seiring berjalannya waktu pendapat ini runtuh dengan sendirinya. Faktanya sekarang begitu banyak para penulis andal bermunculan. Geliat literasi yang membahana di seluruh penjuru negeri ini seakan menjadi saksi. Pendapat yang menjadi tembok pembatas, sehingga para penulis pemula enggan untuk menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan karena merasa tak ada bakat gugur sudah.
Menulis memang bukanlah bakat bawaan. Semua orang mampu untuk menulis, walaupun tentu tiap orang berbeda-beda. Ada yang begitu mudah menangkap ide di sekitarnya. Setiap apa yang ditemui menjadi serangkaian kalimat-kalimat yang berarti, sehingga enak untuk dibaca dan dinikmati. Tulisan mereka mengalir begitu indah sehingga pembaca selalu rindu untuk mengikuti setiap kalimat yang dituliskan. Kagum dan salut untuk para penulis seperti itu. Bagaimana mereka bisa seperti itu? Apakah kita juga bisa? Mengapa harus menulis? Ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan mengapa kita harus menulis.
Cobalah tanya kepada rumput yang bergoyang ( hehehe... ). Tentu saja kita harus yakin bisa. Terlebih ada beberapa manfaat bila menulis. Berikut beberapa fungsi menulis.
1. Dokumentasi pengetahuan
Ikatlah ilmu dengan tulisan, karena tulisan akan menjadi dokumen yang tetap ada, meski penulisnya sudah tiada.
2. Pencerahan pemahaman masyarakat
Menulis apa yang diketahui, terlebih yang terkait dengan kehidupan sosial akan menjadi pencerahan, sehingga membuka wawasan masyarakat pembaca.
3. Sedekah pengetahuan
Tulisan akan menjadi ibadah sosial, karena setiap tulisan pasti ada maknanya, ada isinya. Apabila tulisan itu bermanfaat bagi orang lain, tentu saja sang penulis akan mendapatkan kebaikan dan pahala. Menulis cara membuat nasi goreng pun akan menjadi sedekah pengetahuan dari pada ilmu atau pengetahuan hanya kita miliki sendiri. Berbagi pengetahuan lewat tulisan akan menjadi ladang pahala.
Menghasilkan tulisan yang tidak sekadar rangkaian kata tanpa makna tentu membutuhkan latihan yang tidak sebentar. Penulis harus mengasah dengan menerbitkan tulisan sebanyak mungkin. Menulis bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir tetapi keterampilan yang dapat dimiliki oleh setiap orang dengan semangat dan konsisten.
LPMP JOGJA, 22 November 2019

No comments:

Post a Comment