Jangan Menyerah Nak!
Tantangan Menulis Hari ke-9
#Tantangangurusiana
#Tantangangurusiana
Tak terasa air mataku menganak sungai mendengarkan kisah remaja belasan tahun yang kini berada di hadapanku. Siapa yang menyangka di balik kulitnya yang bersih dengan kemeja batik biru dipadu celana hitam itu tersimpan cerita yang menyesakkan dada. Merasa sendiri dan tak berarti.
Dialah Nathan. Pemuda yang kini masih duduk di kelas 12. Meskipun masih begitu belia, dia sudah sangat profesional dan andal dalam memandu tim kami mengelilingi dan meliput kegiatan di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI).
Nathan kecil terlahir dari sebuah keluarga yang cukup berada. Keluarga utuh dengan orang tua yang memanjakannya. Tak hanya gelimang harta, tapi juga kasih sayang. Dia bersama ketiga saudaranya hidup enak dan berkecukupan. Rekreasi dan wisata kuliner bukanlah hal yang mewah baginya. Namun pelangi tak selamanya menghiasi langit. Berarak mendung hitam , menggelapkan dan menjatuhkan hujan air mata. Tulang punggung keluarga, ayah tercintanya berpulang. Selang seratus hari Ibunya pun menyusul. Sungguh bak petir yang menggelegar, menyambar fanpa belas kasihan. Nathan pun terpisah dari saudara-saudaranya.
Nathan kecil tak menyerah. Tinggal bersama penjaga sekolah menjadi jalan keluar baginya. Kelas tempat dia belajar, bermain bersama teman-temannya menjadi tempat bermalam. Sebelum pagi menjelang dia harus segera bangun karena takut ketahuan teman-temannya. Sungguh miris kisahnya. Di saat yang lain tidur dengan belaian kasih sayang orang tua, di atas kasur yang empuk, kamar yang nyaman, Nathan harus sendirian dalam dinginnya ubin sekolahnya.
Tak berapa lama, datanglah orang tua asuh. Mereka sudah menganggap Nathan seperti anak sendiri. Namun tidak begitu dengan saudara-saudara angkatnya. Ternyata iri dan dengki tak hanya ada dalam sinetron saja. Itu pula yang dirasakan Nathan. Hari demi hari terasa panjang dia lalui. Fitnah dan kedengkian saudara angkatnya semakin membuatnya tak mampu untuk terus bertahan.Meski orang tua angkat sangat menyayangi, dia tak ingin menyakiti hati saudara-saudara angkatnya. Nathan pun memlih untuk undur diri. Keputusan yang tak mudah baginya. Undur diri berarti keluar dari keluarga angkatnya dan kembali tanpa siapa-siapa.
Lagi-lagi dia dalam kebimbangan. Ingin lanjut ke sekolah impian, apa daya biaya tak ada. Pada siapa dia akan meminta bantuan, sementara kakak-kakaknya entah di mana.
Mimpi-mimpi indah yang selalu menghiasi hari-harinya dulu terasa semakin menyayat hatinya. Bagaimana bisa mewujudkan? Atau Nathan harus mengubur dalam-dalam semua asa dan harapannya? Bagaimana kisah selanjutnya?
Nantikan kelanjutan kisah Nathan esok hari ya.
Dialah Nathan. Pemuda yang kini masih duduk di kelas 12. Meskipun masih begitu belia, dia sudah sangat profesional dan andal dalam memandu tim kami mengelilingi dan meliput kegiatan di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI).
Nathan kecil terlahir dari sebuah keluarga yang cukup berada. Keluarga utuh dengan orang tua yang memanjakannya. Tak hanya gelimang harta, tapi juga kasih sayang. Dia bersama ketiga saudaranya hidup enak dan berkecukupan. Rekreasi dan wisata kuliner bukanlah hal yang mewah baginya. Namun pelangi tak selamanya menghiasi langit. Berarak mendung hitam , menggelapkan dan menjatuhkan hujan air mata. Tulang punggung keluarga, ayah tercintanya berpulang. Selang seratus hari Ibunya pun menyusul. Sungguh bak petir yang menggelegar, menyambar fanpa belas kasihan. Nathan pun terpisah dari saudara-saudaranya.
Nathan kecil tak menyerah. Tinggal bersama penjaga sekolah menjadi jalan keluar baginya. Kelas tempat dia belajar, bermain bersama teman-temannya menjadi tempat bermalam. Sebelum pagi menjelang dia harus segera bangun karena takut ketahuan teman-temannya. Sungguh miris kisahnya. Di saat yang lain tidur dengan belaian kasih sayang orang tua, di atas kasur yang empuk, kamar yang nyaman, Nathan harus sendirian dalam dinginnya ubin sekolahnya.
Tak berapa lama, datanglah orang tua asuh. Mereka sudah menganggap Nathan seperti anak sendiri. Namun tidak begitu dengan saudara-saudara angkatnya. Ternyata iri dan dengki tak hanya ada dalam sinetron saja. Itu pula yang dirasakan Nathan. Hari demi hari terasa panjang dia lalui. Fitnah dan kedengkian saudara angkatnya semakin membuatnya tak mampu untuk terus bertahan.Meski orang tua angkat sangat menyayangi, dia tak ingin menyakiti hati saudara-saudara angkatnya. Nathan pun memlih untuk undur diri. Keputusan yang tak mudah baginya. Undur diri berarti keluar dari keluarga angkatnya dan kembali tanpa siapa-siapa.
Lagi-lagi dia dalam kebimbangan. Ingin lanjut ke sekolah impian, apa daya biaya tak ada. Pada siapa dia akan meminta bantuan, sementara kakak-kakaknya entah di mana.
Mimpi-mimpi indah yang selalu menghiasi hari-harinya dulu terasa semakin menyayat hatinya. Bagaimana bisa mewujudkan? Atau Nathan harus mengubur dalam-dalam semua asa dan harapannya? Bagaimana kisah selanjutnya?
Nantikan kelanjutan kisah Nathan esok hari ya.
Bantul,09022020
#tantangangurusiana#harike-9#
#tantangangurusiana#harike-9#

No comments:
Post a Comment